Awas, Harta Haram Hanya akan Menyengsarakan Diri dan Keluarga!

By | October 30, 2017

Kelihatannya uang haram itu akan membuat diri menjadi bertambah kaya, namun sesungguhnya justru menyengsarakan dan memboroskan untuk jangka panjang. Anak yang dihidupi dengan barang dan harta haram akan memiliki kecenderungan berbuat curang seperti mau mengambil milik temannya (uang temannya, pensil, permen, dan lain-lain), jika disuruh belanja uang kembaliannya tidak diberikan semua kepada orang tuanya, dan mau menggunakan uang bayaran sekolahnya untuk jajan atau beli mainan. Jika kelak dewasa (kuliah) rawan untuk membohongi bayaran kuliah pada orang tuanya dan berlanjut kepada kebohongan lainnya seperti membolos, menyontek, narkoba, bahkan berzina. Hal itu sungguh boros, merugikan, dan merusak.

Stop Harta Haram

Sedangkan anak yang dibesarkan dari harta halal dan baik, ketika masih kecil ia memang terpengaruh pergaulannya. Jika pergaulannya nakal ia cenderung nakal. Namun ketika dewasa, watak aslinya akan muncul. Ia akan tumbuh menjadi orang yang tidak suka curang, walaupun tidak ketat pengawasannya, cenderung jujur, tidak suka berbohong soal bayaran sekolah/ kuliah, jika disuruh belanja, uang kembaliannya akan dikembalikan semua. Hal itu sungguh menghemat, menguntungkan, dan bersifat membangun. Sesungguhnya semua itu sudah diperingatkan oleh Allah dalam Firman-Nya.

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah rezekikan kepadamu….” (Surah Al Maaidah ayat 88).

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang” (Surah AI Muthaffifiin ayat 1).

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan membinasakan mereka dengan berangsur-angsur, dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (Surah AI A’raaf ayat 182)

Allah melarang manusia makan harta haram, berbuat curang, korupsi. jika manusia nekad maka ia telah mendustakan perintah Allah dan akan dibinasakan secara berangsur-angsur seperti dalam surah Al A’raaf ayat 182.

Semanfaat dan sepenting apa pun barang itu, apabila haram tetap berakibat tidak baik atau merusak diri dan kepribadian anak. Sebab harta haram itu bagaikan racun yang mengotori darah, bisa membinasakan, dan memperkeruh pikiran serta hati.

Ada pendapat yang salah, ”ini saya sudah korupsi, seandainya tidak, bagaimana mungkin saya mampu merawat istri saya di rumah sakit semahal ini?’ Padahal, apabila ia tidak korupsi belum tentu istrinya akan sakit separah itu.

Penulis telah mengamati beberapa keluarga yang orang tuanya mengambil warisan tidak sesuai bagiannya (serakah), awal hidupnya penuh bergel imangan fasilitas. Namun lama-kelamaan keluarga tersebut rusak, baik kondisi sosial ekonomi, keharmonisan keluarganya, dan lebih parah lagi kebanyakan anggota keluarganya memiliki hati iri.

Dalam kehidupan nyata, ada juga koruptor yang anaknya terlibat narkoba, melakukan zina, dan perbuatan nista lainnya.

Sebaliknya, orang yang tidak mau menggunakan harta haram, insya Allah, ia akan selalu dijaga oleh Allah, dijauhkan dari hal-hal yang mengotori dirinya. ibaratnya, apabila kita punya beberapa mebel untuk hiasan di ruang tamu, maka hiasan yang sudah berkarat apabila kena debu, kita akan malas membersihkannya. Mebel itu akan kita singkirkan dan kita biarkan terkena debu. Sebaliknya, apabila ada mebel yang mengkilap bersih dan bagus, maka akan kita pajang. Apabila kena debu sedikit saja, kita cepat-cepat membersihkannya. Kita jaga dengan hati-hati. Demikian juga manusia yang jarang melakukan dosa, maka Allah akan menjaganya agar terhindar dari dosa. Misalnya orang yang jarang mencuri, sekali mencuri akan ketahuan sehingga ia jera tidak lagi mau mencuri.

Orang tua yang menyayangi anak-anaknya jangan sampai membiayai hidup anaknya dengan harta atau barang haram. Memang harta haram pada awalnya tampak memberikan keuntungan secara materi namun lama-kelamaan akan merugikan diri baik secara materi, mental, maupun keimanan.

(Sumber: Merawat dan Mendidik Anak/Umi Isyiqomah/Hal 114-115/2004)