Membentuk Karakter Anak dengan Bermain Sambil Belajar di Sekolah TK

By | October 24, 2017

Masa kanak-kanak bukanlah masa pemberian beban. Jadi, apabila memasukkan anaknya ke sekolah taman kanak-kanak (TK) harus disesuaikan dengan kemampuan dan kecerdasan anak.

Ada sekolah TK yang sudah aktif mengajari membaca, menulis, dan berhitung. Ada TK yang sudah mengajari bahasa Inggris, ada yang hanya mengajari bermain dan bernyanyi saja. Semua TK tersebut baik, hanya saja orang tualah yang harus memilihkan TK sesuai kemampuan anak.

Apabila anak memiliki kemampuan daya ingat dan kecerdasan tinggi dan mudah bosan, maka tidak ada masalah apabila anak dimasukkan ke TK yang mengajarkan menulis, berhitung, membaca, komputer, berbahasa Inggris, dan lain-lain. Ini pun sebatas jangan sampai anak mendapat tekanan. Di TK tidak ada pemaksaan mengenai harapan agar anak bisa membaca lancar dan menyelesaikan banyak tugas. Yang penting anak mau berusaha dan bersungguh-sungguh.

Apabila kecerdasan anak biasa-biasa saja, atau lebih bersemangat bermain, maka sebaiknya anak dimasukkan ke sekolah TK yang lebih banyak memberikan materi bermain. Bagi orang tua tidak perlu memaksa anaknya yang baru TK untuk pandai menghafal bermacam-macam surat, pandai berhitung, pandai menulis, dan pandai menggambar. Apabila anak dituntut untuk itu secara terpaksa, maka akibatnya anak menjadi pandai namun tidak kreatif. Pikiran anak bisa terbebani oleh padatnya materi sehingga menghambat perkembangan daya imajinasi dan kreativitas.

Anak yang kreatif adalah anak yang mampu memecahkan masalah. Adapun anak yang pandai di sekolah belum tentu kreatif.

Masa kanak-kanak adalah masa mengembangkan daya kreativitas dan imajinasi. la bebas bernyanyi, bergembira, bersorak, bertepuk tangan, dan bermain. Jangan sampai kreativitas anak terkekan’g oleh banyaknya beban pelajaran, sehingga anak menjadi pandai di sekolah namun perkembangan kreativitasnya terhambat. Sebaliknya, jangan sampai anak bosan sekolah karena materi pelajaran sekolah tidak sebanding dengan kecerdasan anak. Untuk itu, bagi orang-tua yang memiliki anak cerdas perlu dimasukkan ke TK yang sesuai kecerdasan anak.

Di masa kanak-kanak, di sekolah TK, jangan sampai orang tua memarahi anak hanya gara-gara nilai pelajarannya jelek. Selama anak mau sekolah, bergembira, dan tidak nakal (tidak egois), itu sudah bagus.

Memang anak-anak memiliki daya ingat lebih baik dibandingkan orang dewasa. Apabila anak disuruh menghafal berbagai pelajaran, anak juga akan mampu menghafalnya dengan baik. Namun jangan menggunakan “aji mumpung”. Mumpung masih kecil, mumpung mudah menghafal, lantas pikiran anak dipasok dengan berbagai materi pelajaran. Jika hal itu terjadi, maka anak menjadi pintar namun tidak kreatif. Perkembangan psikologi sosial anak bisa terhambat.

Apabila anak hanya dituntut untuk mendapatkan nilai yang bagus, mendapatjuara, maka anak dapat tumbuh menjadi anak yang pandai namun egois, tidak mau dikalahkan, dan bisa berlanjut menjadi seorang yang berhati iri. Penyakit iri ini bersifat merusak, sangat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Namun sebaliknya, mumpung masih kecil anak diajari berakhlak

yang baik, hal ini sangatlah baik dan bersifat membangun.

Yang perlu dikuasai anak setingkat TK antara lain:

1. Dapat memakai dan melepas sepatu, menata peralatan sekolah ke dalam tasnya, cuci tangan, makan tidak berceceran tanpa disuapi, memakai baju dan melepaskan baju, bisa melipat sapu tangan, dan melipat selimut kecil. Apabila anak dibiasakan terampil menyelesaikan pekerjaan pribadinya, diharapkan ia tumbuh menjadi anak yang mandiri, tidak main perintah, dan tidak canggung.

2. Mampu mengungkapkan yang dirasakan dan ingin dilakukan, seperti mengungkapkan ingin meludah, buang air kecil, buang air besar, mengungkapkan sakit yang dirasakan, dan lain-lain.

3. Dapat berbaur dengan teman-temannya, membantu teman, meminjami pensil temannya yang ketinggalan, memberikan sebagian kue untuk temannya, komunikatif, dan tidak murung.

4. Dapat memegang alat tulis dengan benar, menggunting kertas, melipat kertas, mewarnai sesuai warna yang cocok (rumput diberi warna hijau, rambut diberi warna hitam, dan lain-lain), menggunakan penggaris untuk membuat garis lurus dan persegi, dan membuat lingkaran.

5. Dibiasakan disiplin. Misalnya meletakkan kembali sesuatu pada tempatnya (tas pada tempatnya, sepatu pada tempatnya, piring bekas makan, gelas bekas minum, mainan pada tempatnya, dan lain-lain). Kelihatannya ini sangat sepele namun penting untuk dibiasakan. Sebab jika tidak dibiasakan sejak kecil, kelak dewasa bisa menjadi orang yang malas dan menyebalkan.

6. Berani maju di depan kelas. Tampil di depan kelas untuk menyanyi, mengaji, maupun menulis di papan tulis. Dalam hal ini yang dipentingkan bukan merdunya atau bagusnya suara menyanyi, melainkan keberanian untuk tampil ke depan.

Di TK yang dipentingkan adalah agar anak dapat belajar disiplin, bermain bersama, kemampuan bersosialisasi, kemampuan berbahasa, bisa menyesuaikan diri, belajar mandiri, tidak egois, saling membantu, kreatif, dan belum saatnya dibebani dengan berbagai materi pelajaran.

Perkembangan daya kreativitas di masa kanak-kanak bisa memengaruhi kreativitas berpikir kelak dewasa. Sebagai contoh, ada seseorang yang ketika sekolah di TK juara 1, di SD juara 1, di SMP juara 1, di SMA juara 10 besar, di universitas nilainya tinggi dan berprestasi, namun setelah lulus hanya bisa melamar kerja ke sana kemari, dan ketika ditolak, ia canggung tak tahu apa yang bisa dilakukan kecuali menunggu lowongan kerja. Dan masih banyak lagi sarjana yang memiliki nilai tinggi, namun menjadi pengangguran, tidak terampil memanfaatkan peluang-peluang yang ada atau tidak bisa menciptakan peluang baru, dan hanya bisa melamar pekerjaan ke sana kemari. Ada lagi kasus penganiayaan oleh mahasiswa senior terhadap beberapa mahasiswa yang pandai, terjadi bertahun-tahun, berulang-ulang, sampai-sampai mahasiswa yang pandai dan berprestasi tadi meninggal dunia. Itu semua bukti bahwa mereka pandai, berprestasi di sekolah, namun kurang kreatif. Orang yang kreatif itu mampu memecahkan masalah yang menimpa dirinya, kalau perlu memecahkan masalah orang lain. Untuk itulah, daya kreativitas anak harus dikembangkan secara normal dan jangan sampai terhambat oleh bebanbeban pelajaran (materi sekolah).