Pembagian Kerja Suami dan Istri dalam Rumah Tangga

By | October 30, 2017
Pembagian Kerja Suami dan IstriTanggung jawab dalam keluarga adalah tanggung jawab suami dan istri. Keduanya harus saling meringankan beban. Dalam berumah tangga sebaiknya ada pembagian tugas. Suami dan istri bisa membuat jadwal yang disesuaikanĀ dengan kesibukan dan kemampuan masing-masing.

Jadwal pembagian kerja suami dan istri bukan bersifat kaku melainkan untuk mempermudah urusan rumah tangga. Jadi tepatnya, harus saling pengertian.

Ketika istri hamil, istri tidak bisa bekerja seberat sebelum ia hamil. Oleh karena itu, ketika istri hamil, ada baiknya mengangkat pembantu rumah tangga, atau memanggil tukang cuci, tukang masak, tukang ngepel (bersih-bersih rumah). Apabila tidak mampu untuk membayar pembantu, maka suami harus rela lebih banyak melakukan pekerjaan rumah tangga dan menambah perhatiannya kepada istri.

Jadi, pembagian kerja harus menyesuaikan situasi dan kondisi. Contohnya sebelum hamil istri sering mengepel lantai. Namun ketika istri hamil sebaiknya suami yang mengepel lantai. Sesudah melahirkan dan pulih kesehatannya, istri bisa kembali mengepel.

Suami yang mau melakukan pekerjaan rumah tangga (menyapu, mencuci, memasak, dan lainlain) bukanlah suatu hal yang memalukan namun justru mulia dan membanggakan. Begitu pula istri yang bekerja di luar rumah (menjad| guru dokter, menteri, bupati, dan lainlain).

(Sumber: Merawat dan Mendidik Anak/Umi Isyiqomah/Hal 41/2004)